Beranda Lifestyle

Review The Two Popes: Paus Agung pun Manusia Biasa yang Bisa Galau

158

Review Film The Two Popes | Dalam pikiran kita, pastinya kita beranggapan bahwa Paus Agung merupakan orang terpilih nan suci. Kita melihatnya sebagai sosok pemimpin yang tanpa dosa dan kaku, padahal Paus Agung juga seorang manusia biasa selayaknya orang banyak.

Karena juga seorang manusia, sifat manusiawi pun wajar dimiliki oleh mereka. Mereka pun memiliki intrik dalam kehidupannya dan juga pribadinya.

Begitu mungkin The Two Popes tampaknya ingin membawa kita mendalami cerita di dalam film ini. Film ini dirilis oleh Netflix pada Desember 2019 kemarin.

Film yang disutradarai oleh Fernando Meirelles dan ditulis oleh Anthony McCarten ini mengangkat kisah nyata yang terjadi di Vatikan pada tahun 2012.

Kisah ini melibatkan dua tokoh penting Gereja Katolik, antara Paus Benediktus XVI Joseph Ratzinger dan Paus Fransiskus saat ini Jorge Bergoglio.

Naskah Kuat Membuat The Two Popes Sama Sekali Tidak Membosankan

Anthony Hopkins sebagai Paus Benediktus XVI dan Jonathan Pryce sebagai Kardinal Jorge Bergoglio menjalin chemistry baik di film ini. Dari cruxnow.com, Anthony McCarten awalnya mengangkat kisah ini pada drama pentasnya di Northampton, Inggris, yang berjudul The Pope.

Kemudian diangkat lagi ke film ini, naskah yang dibawa olehnya benar-benar cemerlang. Kita bisa menyimak percakapan antara keduanya yang berganti-ganti bahasa.

Dari bahasa Latin, Inggris, Italia, Jerman, dan Spanyol bisa kita dengarkan dari kedua tokoh secara santai-santai saja. Kedua aktor terlihat lancar dan mulus-mulus saja dengan naskah multi bahasa buatan Anthony McCarten.

Tidak ada si antagonis jahat dalam film ini. Justru diskusi-diskusi antara kedua kepribadian yang berbeda inilah yang menjadi bahan pokoknya.

Penceritaan film ini lebih berat kepada kehidupan yang dialami Kardinal Jorge Bergoglio, padahal judulnya The Two Popes, yang artinya adalah Dua Paus.

Review Film The Two Popes

Mungkin Meirelles dan McCarten ingin drama biografi ini tidak kehilangan arah dengan hanya menampilkan sudut pandangnya Kardinal Jorge Bergoglio saja. Tapi saya yang menonton biopik ini dibuat senyum-senyum ketawa tapi ada sedih plus harunya.

Karakter yang Dibawa Dua Pemeran Utama

Karena tak ada antagonis, Fernando Meirelles memberi kedua tokoh ini pemikiran yang berlawanan arah.

Kardinal Jorge Bergoglio ditampilkan sebagai seseorang dengan empati tinggi, bersahabat, menyukai sepak bola, lebih modern, dan fleksibel. Sedangkan Paus Benediktus Joseph Ratzinger digambarkan sebagai seseorang yang senang menyendiri, konservatif, memiliki selera seni tinggi, dan kaku.

Di sini Jonathan Pryce benar-benar mirip dengan Paus Fransiskus saat ini Jorge Bergoglio sehingga hampir terasa nyata.

dua pemeran utama

Roger Ebert, seorang kritikus film, berpendapat bahwa Jonathan Pryce terlalu menjadi tumpuan dalam memainkan peran emosional dalam film ini sedangkan Anthony Hopkins tidak diberi keluasan seperti itu.

Walaupun begitu, Karakter yang diperankan Anthony Hopkins ini mampu berkembang. Hal ini terbukti dengan adanya scene ketika Paus Benedict XVI mulai berbaur dengan umat secara langsung dan makan Pizza bareng kesukaan Kardinal Jorge Bergoglio.

Bukan Film Dokumentasi

Banyak yang mempertanyakan dan meragukan apakah film ini seluruhnya benar-benar sesuai dengan apa yang terjadi di balik dinding Vatikan atau tidak.

Hubungan antara Paus Benediktus XVI dan Kardinal Bergoglio juga banyak dikatakan dilebih-lebihkan.
Tapi tunggu dulu, Ini adalah film drama biografi bukan film dokumentasi. Toh namanya juga film drama biografi, tentu ada penambahan adegan-adegan tertentu. Hal ini dilakukan tentunya untuk keperluan dramatisasi.

Salah Satu Desain Produksi Terbaik

desain produksi terbaik

Di film ini kita bisa melihat latar indah dengan sinematografi yang cukup bagus.

Hal ini dapat terlihat saat adegan di Sistine Chapel. Cesar Charlone sebagai sinematografer memanfaatkan latar indah ini dengan baik.

Kredit juga patut diberikan kepada Production Designer film ini, Mark Tidesley.

Kamu pasti bertanya-tanya apakah adegan tersebut dilakukan di Sistine Chapel asli atau tidak. Jawabannya adalah tidak. Fernando Meirelles dan Mark Tidesley mampu membuat replikasi dari Sistine Chapel di sebuah studio (architecturaldigest.com).

Lainnya: Film Fantasi dengan Efek CGI Terbaik

Benar-benar sebuah produksi film yang hampir bisa saya katakan sempurna.

Drama Biografi yang Sangat Menyentuh

Kekuatan The Two Popes berada pada dialog dan naskahnya. Menjadikan pertemanan kedua tokoh ini terasa begitu nyata layaknya sepasang teman dekat.

Setelah menonton film ini, saya yang tidak tahu dengan apa yang terjadi di Vatikan ini dibuat penasaran. Saya jadi mencari tahu sendiri dan googling mengenai hal ini.

Dengan begitu, The Two Popes dapat dikatakan sebagai sebuah film biopik yang berhasil. Sebuah film biopik yang berhasil mengajak penontonnya menggali lebih dalam kejadian aslinya.

Wajar saja, Anthony McCarten juga merupakan orang dibalik naskah biopik lainnya seperti Bohemian Rhapsody (2018).

Semua orang dapat menikmati film ini, tidak harus yang beragama Katolik. Karena hidangan utamanya bukanlah mengenai agamanya. Sangat menyentuh merupakan dua kata yang tepat untuk menggambarkan film ini.

Artikel ini dikirimkan oleh situs himpoon.com sebagai bagian dari guest post (penulis tamu) yang disediakan oleh blog ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here